Analisis perbandingan teknis penulisan Ta’ Marbuthah dan Maftuhah dalam Rasm Imlaiy dan Rasm Mushaf
Nama: Ista mamonto
Email: istamamonto22@gmail.com
Abstrak: teknis
penulisan ta’ marbuthah dan maftuhah ada dalam ilmu rasm Al-Qur’an yaitu ilmu
yang mempelajari tentang penulisan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara
khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentu-bentuk huruf yang digunakannya.
Penulisan ta’ marbuthah dan maftuhah bertujuan untuk mendeskripsikan pengertian
dari ta’ marbuthah dan maftuhah, mendeskripsikan letak-letak penempatan ta’
marbuthah dan maftuhah, dan mendeskripsikan cara penulisan ta’ marbuthah dan
maftuhah. Cara posisi penulisan ta’ pada umumnya ada yang pada posisi sendiri
atau terpisah, ada yang terletak di awal, ditengah, serta di akhir. Ta’
marbuthah yang apabila diwakafkan dibaca ha’ sedangkan ta’ maftuhah yang
apabila diwakafkan tetap dibaca ta’. Ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah dapat
diketahui di berbagai macam tempat, seperti ta’ yang terletak pada isim mufrad,
jamak taksir, masdar dan lain-lain. Manfaat dari penulisan ta’ marbuthah dan
maftuhah dapat digunakan sebagai pembelajaran mengenai ta’ marbuthah dan
maftuhah dan memehami waktu penggunaan ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah serta
posisi penulisan ta’ dari keduannya.
Kata kunci:
Ta’ marbuthah dan maftuhah
A.
PENDAHULUAN
Rasm berasal dari kata rasama, yarsamu, rasma, yang berarti
menggambar ataumelukis. Kata rasm ini juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang
resmi atau menurut aturan. Jadi rasm berarti tulisan atau penulisan yang yang
mempunyai metode tertentu. Adapun yang dimaksut rasm dalam makala ini adalah
pola penulisan Al-Qur’an yang digunakan Usma bin Affan dan sahabat-sahabatnya
ketika menulis dan membukukan al-Qur’an. (Khallaf n.d.)
Pendapat ini diperkuat al-Zarqani dengan mengatakan bahwa rasm
Imla’I diperlukan untuk menghindarkan umat dari kesalahan membaca Al-Qur’an,
sedang rasm Usmani diperlukan untuk memelihara keaslihan msuhaf Al-Qur’an.11
Tampaknya pendapat yang ketiga ini berupaya mengkompromikan antara dua pendapat
terdahulu yang bertentangan. Di satu pihak mereka ingin melestarikan rasm
Usmani, sementara dipihak yang lain mereka menghendaki dilakukannya penulisan
Al-Qur’an dengan rasm Imla’I untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang
kemungkinan mendapat kesulitan membaca Al-Qur’an dengan rasm Usmani. Dan
pendapat ketiga ini lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi umat. Memang
tidak tidak ditemukan nashditemukan nash yang jelas diwajibkan penulisan
Al-Qur’an dengan rasm Usmani. Namun demikian, kesepakatan para penulis
Al-Qur’an dengan rasm usmani harus di indahkan dalam pengertian menjadikannya
sebagia rujuan yang keberadaannya tidak bole hilang dari masyarakat islam.
Sementara jumlah umat islam dewasa ini cukup besar dan tidak menguasai rasm
Usmani. Bahkan, tidak sedikit jumlah umat islam yang tidak mampu membaca aksara
arab. Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar membaca
ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian, Al-Qur’an dengan
rasm Usmani harus dipelihara sebagai sandar rujukan ketika dibutuhkan. Demikian
juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya imiah, rasm Usmani mutlak
diharuskan karena statusnya suda masuk dalam kategori rujuakn dan penulisannya
tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya.(Khallaf n.d.)
Ta marbūtah disebut juga dengan ta simpul (ة ) yang terletak
di akhir kata. Adapun defenisi ta marbūtah menurut ahli bahasa Arab (Mustafa
Ghalāyyini menjelaskan:
التاء المر
بوطة تلحق الصفا ت تفر قة بين المذ كر
at-tā’u al-marbūtatu: talhiqu s-sifatu tafriqatan bayna
al-muzakkari minha. ‘ta marbūtah, adalah ta yang berhubungan dengan sifat yang
membedakannya dari muzakkar’. Berdasarkan defenisi di atas, maka yang dimaksud
dengan ta marbūtah adalah ta yang menunjukkan jenis perempuan sebagai tanda
yang membedakannya dari laki- laki. (Arab 2009)
Ta’ Marbuthah, adalah ta’ yang dibaca seperti
ta’ maftuhah, Ta’ ini dibaca Ha ketika diwaqaf (berhenti), namun jika diwashal
maka tetap dibaca ta seperti ta maftuhah, dari segi bentuknya ta marbuthah
harus dibubuhi dua titik, hal ini untuk membedakannya dengan huruf ha asli. (Qawaid al-Imla ’ wa
al-Khat 1 n.d.). Ta
marbūtah adalah huruf yang berfungsi terletak di akhir kata benda (ism). (Arab 2009)
Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ‘ta’ dengan
kalimat setelahnya baik ketika bersambung (washal) ataupun ketika berhenti
(waqaf), ta’ ini disebut dengan ta’ asli
( السكوت – البيت – النباتات ), yang terletak di akhir suatu kata, baik pada kata kerja
maupun kata benda.(Qawaid al-Imla ’ wa
al-Khat 1 n.d.). ta’ maftuhah atau ta’ ta’nis adalah huruf yang berfungsi dapat terletak di akhir (fi’l) dan
di akhir kata benda (ism). (Arab 2009).
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Ta’ Marbuthah dan Maftuhah
Ta marbūtah
disebut juga dengan ta simpul (ة ) yang terletak di akhir kata. Adapun
defenisi ta marbūtah menurut ahli bahasa Arab (Mustafa Ghalāyyini menjelaskan):
التاء المر بوطة تلحق الصفا ت تفر قة
بين
at-tā’u
al-marbūtatu: talhiqu s-sifatu tafriqatan bayna al-muzakkari minha. ‘ta
marbūtah, adalah ta yang berhubungan dengan sifat yang membedakannya dari
muzakkar’. Berdasarkan defenisi di atas, maka yang dimaksud dengan ta marbūtah
adalah ta yang menunjukkan jenis perempuan sebagai tanda yang membedakannya
dari laki- laki. (Arab 2009)
Ta’ Marbuthah, adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah, Ta’ ini dibaca
Ha ketika diwaqaf (berhenti), namun jika diwashal maka tetap dibaca ta seperti
ta maftuhah, dari segi bentuknya ta marbuthah harus dibubuhi dua titik, hal ini
untuk membedakannya dengan huruf ha asli.(Qawaid al-Imla
’ wa al-Khat 1 n.d.)
Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ‘ta’ dengan kalimat
setelahnya baik ketika bersambung (washal) ataupun ketika berhenti (waqaf),
ta’ ini disebut dengan ta’ asli ( السكوت – البيت – النباتات ), yang terletak di akhir suatu kata, baik pada
kata kerja maupun kata benda.(Qawaid al-Imla
’ wa al-Khat 1 n.d.)
2.
Contoh
Ta’ Marbuthah dan Maftuhah
|
No. |
contoh |
Ta’ |
|
1. |
وَلَلْآ خِرَةُ خَيْرٌ
لَّكَ مِنَ الْأُولَ |
marbuthah |
|
|
حَمْزَةُ بنُ عَبْد
المُطَلبْ رَجُلٌ شُجَاعٌ |
|
|
2. |
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنْ مِنْكَ إِن كُنْتَ
تَقِيَّا |
maftuhah |
|
|
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ |
|
3.
Kaidah
penulisan Ta’ Marbuthah dan Maftuhah
Kaidah Ta’ Marbuthah biasanya ditulis pada beberapa kategori:
1.
Nama perempuan (Muannats Hakiki) (فاطمت)
2.
Isim Muannats Majazi (الآخِرَة)
3.
Isim Muannats Lafdzi, tapi hakikatnya
Mudzakkar (حَمْزَة)
4. Jamak Taksir (Jamak tak beraturan) (قُضَاة) (Qawaid al-Imla
’ wa al-Khat 1 n.d.)
Kaidah Ta’ Maftuhah biasanya ditulis pada beberapa kategori:
1.
Ta Dhamir Mutakallim جِئْتُ جِئْتَ جِئْتِ))
2.
Ta’ Ta’nits/ Ta yang menunjukkan perempuan (قالت)
3.
Ta’ Jamak Muannats Salim (القانتلت الصالحات)
4.
Ta’ asli yang merupakan unsur utama pada sebuah kata
(ثبت – لات – مات – بات) (Qawaid al-Imla ’ wa al-Khat 1, n.d.)
Penjelasan Ta’ Marbuthah dan Maftuhah
1. Ta’ Marbuthah
Misal:
Muzakkar
mu’annas
بَائع / ba’i un/ بَائعة / ba’i atun/
penjual
penjual
/al-muzakkaru: huwa i-ismu al-lazi ‘āla
al-muzakkari wa laysa lahu ‘alāmatu al- ta’ nisi/
‘muzakkar. adalah ism yang menunjukkan kepada
laki-laki dan tidak ada padanya tanda-tanda perempuan’
Dari
uraian di atas, penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud ism
muzakkar adalah kata benda yang dinyatakan dengan perkataan ‘haza‘ untuk menunjukkan
laki-laki serta tidak ada tanda-tanda perempuan.
misal:
رجل /rajulun/ ‘seorang laki-laki’
كتاب /kitābun/ ‘kitab’
هر /hirun/ ‘kucing’
حديد /hadidun/ ‘besi‘
عدل /adalun/ ‘adil’
إستقلال /istiqlālun/
‘kemerdekaan’
Adapun defenisi ism mu’annas, penulis
kemukakan beberapa pendapat ahli bahasa, seperti. (Mustafa Ghalayyin, 1973 : 9)
المؤنث : مايصح أن تشير إليه يقولك هذه
/al-mu’annasu: mā yasihhu
an tusyira ilayhi biqa-walika ‘hazihi’/ ‘mu’annas : adalah suatu yang
dibenarkan untuk menyatakan kepadanya dengan kata ‘hazihi’
misal:
Muzakkar
عالم/ alimun/ guru
محمود / mahmudun/ terpuji
Mu’annas
عالمة/ alimatun/ guru
محمودة / mahmudatun/ terpuji
Adapun
penambahan ta pada sifat adalah, untuk membedakan antara muzakkar dengan
mu’annas dan ini sering dipergunakan, adakala ta diletakan di awal kalimat dan
di akhir kalimat, ini semunya tergantung kalimat yang mau diucapkan, apakah
kalimat muzakkar atau kalimat mu’annas.
2. Ta’ Maftuhah
(huruf) yang menunjukkan ta’ maftuhah/ta’nis adalah
sebagai berikut:
1. Dalam kata tugas
(huruf) yang berlafaz ta’ maftuhah/ ta’nis seperti:
/summa/
ﰒ yang berasal dari kata
/summata/ ثمت/
دخلت فاطمة الحجرة ثم عائشة
/dakhalat fātimatu al-hujrata summa ā’isyata/ ‘Fātimah
‘Fātimah masuk kamar
kemudian A’isyah’
Keterangan dari
misal di atas adalah sebagai berikut:
Kalimat yang di atas adalah jumlah fi’liyyah
yang terdiri dariدخلت /dakhalat/ adalah fi’l madi, tetap dalam keadaan
fathah dan ta sakinah adalah damir mustatir (kata ganti yang tersembunyi).
Kataفاطمة /Fātimatu/ adalah sebagai fa’il
yang marfu. Kata, الحجرة /al-hujrata /adalah
sebagai mafulunbih (objek) alamatnya fathah, Kataثم /summa/ adalah huruf
`atf (penghubung) dan ta adalah sebagai tanda yang menunjukkan lafaz ta’nis
(tanda perempuan).
Kata, عائشة/A’isyatu/ adalah sebagi maktub
ilaih (yang menyusul) kepada Fātimah.
Misal: ربت/rubbata/ yang berasal dari kata بر /rubba/
ربت صاحبة تحون اخاها/ rubbāta sāhibatin tahūnu akhāhā/
‘berapa banyak kawan yang
menghianati saudaranya’
Keterangan dari misal di atas adalah sebagai
berikut.
Kalimat misal di atas adalah kalimat sempurna
(jumlah ismiyyah), yang terdiri dari mubtada dan khabar kata ربت/rubbata/ adalah huruf jarr, yang
tetap dalam keadaan fathah dan ta adalah tanda yang menunjukkan lafaz ta’nis (tanda yang dalam kalimat ربت صاحبة/rubbata sāhibatin/ adalah sebagai
fa’il mudāri’ yang
marfu.
Di dalamnya terdapat damir mustatir (kata
ganti yang tersembunyi) sebagai fa’ilnya kata, أخاها/akhaha/ adalah maful (objek) dan
sebagai mudaf.
ها/hā/ adalah damir muttasilu sebagai
mudaf ilaih, تحون أخاها/tahūnu akhāhā/ adalah di tempat rafa sebagai khabar.
Misal: لات/lata/ yang berasal dari ﻻ /lā/
ندمت البغاة ولات سا عة مندم
/nadimat al-buqhātu wa lāta sā’ata mundamin/
‘menyesal orang-orang yang jahat dan tidak ada
waktu bagi yang menyesal’
Keterangan dari misal di atas adalah sebagai
berikut:
Kalimat misal di atas adalah (jumlah
fi’liyyah) yang terdiri dari kata, ندمت/nadimat/ adalah fi’il madi, tetap
dalam keadaan fatha, Kata,البغاة /al-bughatu/ adalah sebagai fa’il yang marfu dan
alamat marfunya adalah dammah. Kata, لات/lata/ adalah kata tugas (harf) nafi
yang berfungsi sebagai laisa tetap dalam keadaan fathah. Dan kata benda (ism)
wajib mahzuf (terlepas) karena maknanya sama dengan kabarnya.
Kata, ساعة/sā’ata/ adalah khabar dari kata, لات/lāta/ mansub dengan baris fathah
dan sebagai mudaf.
Kata, مندم/mundamin/ adalah mudaf ilaih majrur
dengan harkat kasrah.
2. Dalam kata kerja fi’l madi (kata kerja pada
masa lampau) yang dapat berubah.
Misal:
هند د ر ست /Hindun darasat/ ‘Hindun telah
belajar’
حالد ه قر آت/Halidah qara’at/
‘Halidah telah membaca’
a. Hukum ta ini harus sukun seperti misal di
atas akan tetapi dibaris atas apabila ditulis dengan alif.
Misal:
تان در ستاالتلميذ/al-tilmizatāni darasatā/
‘dua orang murid belajar’
b. Ta ta’nis (ta tanda perempuan) harus
fi’lnya setelah kata benda mu’anas dan apabila fi’lnya sebelum ism mu’annas
maka fa’il itu dimu’anaskan atau dimuzakkarkan menurut keterangan sebagai
berikut
1. Fi’l harus dimuzakkarkan bersama fa’il
(pelaku) dalam 2 (dua) tempat.
a. Apabila fa’ilnya muzakkar, maka f’ilnyapun
harus muzakkar.
Misal: قام التلميذان/qāma al-tilmizāni/
‘dua orang murid laki-laki berdiri’
b. Apabila fa’ilnya mu’anas zahir (pelakunya
perempuan yang kelihatan) yang dikecualikan dengan kata,إلا /illa/.
Misal: مانجحت إلا زينب /mā ’najahat illa
zainaba/ ‘tidak ada yang lulus kecuali zainab’
2. fa’il (pelaku) harus dita’niskan bersama
fi’l dalam 3 (tiga ) tempat, yaitu: 1. Fa’ilnya harus mu’annas zahir yang
sesunggunya bersambung dengan fi’lnya. Misal: نجحت التلميذات/nāzahati al-talamizat/ ‘murid
perempuan itu lulus’
نجحت او التلميذتان/nazahat au
al-tilmizatani/ ‘atau dua orang murid perempuan’
او نجحت التلميذت/au nāzahat al-tilmizatu
/ ‘atau murid perempuan ’
2. Fa’ilnya harus damir mustatir (kata ganti
yang tersembunyi) yang kembali kepada mu’annas sesunggunya.
Misal:
الفتا ة نجحت
/al-fatātu najahat/
‘pemudi itu lulus’
الشمس طلعت
/al-syamsu tala’at/
‘matahari terbit’
3. Fa’ilnya harus damir mustatir (kata ganti
yang tersembunyi) yang kembali ke jamak mu’annas salim atau jamak taksir.
Misal:
التلميذات
/al-tilmizātu/ ’murid
perempuan’
او الفتيات
/au al-fatayātu/ ’atau para pemudi’
الجمل جاءت
/al-jamalu zā’at/ ’atau
unta itu datang’
3. Boleh dimuzakkarkan fi’lnya, dan
dimu’annaskan fi’l itu ada beberapa tempat yang terpenting di antaranya:
1.
Apabila fa’ilnya mu’annas majazi zahiran
Misal:
طلع الشمس
/tala’a al-syamsu/
’matahari terbit’
او طلعت الشمس
/au tala’ati al-syamsu/
’atau matahari terbit’
2. Apabila fa’ilnya mu’annas hakiki yang
dipisahkan dari fi’lnya dengan menggunakan selain, إلا/illa/.
Misal:
زار القرية هند
/jārra al- qaryata hindun/ ’hindun mengujungi
desa’
زارت القر ية هند
/jārrat al-qaryata hindun/’hindun mengunjungi desa’
3.Apabila fa’ilnya damir mustatir (kata ganti
yang tersembunyi) yang terpisah dari mu’annas.
Misal: انما زر ني هي
/innamā zārrani hiya/
‘bahwasanya yang mengunjugiku adalah dia (pr)’
او إنما زار تني هي
/au innama zarratni hiya/
‘atau bahwasannya yang mengunjungiku adalah
dia (pr)’
4. Apabila fa’ilnya mu’annas dari kata, نعم /ni’ma/ بئس/bi’sa/atau ساء/sa’a/.
Misal:
نعمت المجتهدة
/ni’mata al-mujtahidatu/
‘alangkah nikmatnya orang rajin’
5. Apabila fa’ilnya
muzakkar, jamak dengan أ /alif/ dan ت /ta/
Misal:
جاء المعا ويات
/jā’a aI- mu’āwiyātu/
’para mu ’āwiyah datang’
جاء ت المعا ويات
/jā’ati mu ’awiyatu/
‘para mu ’awiyah datang’
6. Apabila fa’il-Nya jamak taksir untuk
mu’annas dan muzakkar.
Misal:
حضرت الفوا طم
/hadarati al-fawātimu/
’fatimah-fatimah telah hadir’
apabila fa’ilnya mulhaq dengan jamak muzakkar
salim.
Misal:
جاء او جا ء ت البنون
/jā ’a au jā’at
al-banuna/
’telah datang anak laki-laki’
Adapun fa’ilnya mulhaq dengan jamak mu’anans.
Misal:
نجح أو نجحت أو لات الإجتها د
/najaha au najahat aulatu
l-ijtihādi/
‘telah lulus perempuan
yang mempunyai kesungguhan’
7. Apabila
fa’ilnya muzakkar yang dimudafkan kepada mu’annas dengan syarat tidak ada
pengarunya muzakkar hilang.
Misal: فازت كل المجتهد ات
/fāzat kullu
al-mujtahidāti/
‘berhasil setiap perempuan yang
sungguh-sungguh’
8. Apabila fa’ilnya jamak.
Misal:
حضر او حضرت النساء
/hadara au hadarati
al-nisa’u/
‘telah datang
wanita-wanita’
Ataupun ism jinsi jami’ah.
Misal: قال أو قا لت العرب
/qāla au qālati l-arabu/ ’berkata orang-orang Arab’
Dan dalam fi’l yang tidak dapat berubah
apabila tidak diharuskan untuk dimuzakkarkan fa’ilnya, seperti:
a. dalam fi’il ta’ajjub (menyatakan kekaguman)
yang wazannya أفغل/af ’ala/.
Misal:
ما احسن المر أة
/mā ’ahsana al-mar’ata/
‘alangkah cantiknya perempuan itu’
Keterangan dari misal di atas adalah sebagai
berikut:
ما/mā/ adalah ism nakirah dengan arti
(sesuatu).
Kedudukanya sebagai mubtada’ mabni atas sukun
berkedudukan ra’fa, احسن/ ahsana fi’l madi’. Fa’lnya damir
mustatir wajib, taqdirnya, هو/huwa/ kembali kepada, ما/mā/ المرأة /al-mar’ata/ adalah maf’ulbih (objek) bagi
kata kerja (fi’l) Jumlah fi’l dan fa’ilnya itu adalah khabar bagi, ما /mā/. Maka, احسن/ahsanu/ tetap
dimuzakkarkan walaupun kata benda (ism) setelah ism mu’annas.
b. dalam fi’l istisna, خاشا/khāsyā/ ‘kecuali’ dan, خلا/khalā/ ‘kecuali’
Misal: دخلت التلميذ ات الفصل خلا زينب
/dakhalat al-tilmizatu
al-fasla khalā zainaba/
‘murid-murid perempuan telah masuk terkecuali si zainab’
Keterangan dari misal di atas adalah sebagai berikut:
Kata, خلا/khala/ ‘kecuali’ adalah fi’l
istisna, yang tetap muzakkar walaupun kata benda (ism) setelahnya adalah ism
mu’annas ma’nawi. Dan kata, زينب/zainaba/ adalah mustasna (yang
dikecualikan).
3. Dalam ism (kata benda)
Huruf,تا ء /ta/ yang masuk pada kata benda (ism) berfungsi sebagai
berikut:
1. Membedakan antara
muzakkar dan mu’annas dan menjadi tanda mu’annas.
Misal:
البنت قا ئمت
/al-bintu qā ’imatun/ ’seorang anak perempuan yang berdiri’
الولد قا ئم
/al-waladu qā’imun/
’seorang anak laki-laki sedang berdiri’
2. Membedakan antara muzakkar dan mu’annas.
Setelah muzakkar tidak ada tanda-tanda mu’annas. Sebaliknya juga setelah
mu’anas tidak ada tanda-tanda muzakkar.
Misal:
جاء ثلاثة رجال
/jā ’a salāsatu rijālin / ’datang tiga orang
laki- laki’
جاء ت ثلاث نسوة
/jā’at salasu niswatin /
’datang tiga orang perempuan’
3. Membedakan antara mufrad dan jamak, ta
menjadi tanda mufrad muannas.
Misal:
لي تمرة
/li tamratun/ ’saya
mempunyai sebuah kurma/’
لي تمرا ت
/li tamrātun/ ‘saya mempunyai banyak kurma’.
C. KESIMPULAN
1. Rasm berasal dari kata rasama, yarsamu, rasma, yang berarti
menggambar ataumelukis. Kata rasm ini juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang
resmi atau menurut aturan. Jadi rasm berarti tulisan atau penulisan yang yang
mempunyai metode tertentu. Adapun yang dimaksut rasm dalam makala ini adalah
pola penulisan Al-Qur’an yang digunakan Usma bin Affan dan sahabat-sahabatnya
ketika menulis dan membukukan al-Qur’an.
2. Ta’ Marbuthah, adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah, Ta’ ini dibaca
Ha ketika diwaqaf (berhenti), namun jika diwashal maka tetap dibaca ta seperti
ta maftuhah, dari segi bentuknya ta marbuthah harus dibubuhi dua titik, hal ini
untuk membedakannya dengan huruf ha asli.
Sedangkan Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ‘ta’ dengan kalimat
setelahnya baik ketika bersambung (washal) ataupun ketika berhenti (waqaf), ta’
ini disebut dengan ta’ asli ( السكوت – البيت – النباتات ), yang terletak di akhir suatu kata, baik pada
kata kerja maupun kata benda.
3. Kaidah Ta’ Marbuthah biasanya ditulis pada beberapa kategori:
1. Nama perempuan (Muannats Hakiki) (فاطمت)
2. Isim Muannats Majazi (الآخِرَة)
3. Isim Muannats Lafdzi, tapi hakikatnya Mudzakkar (حَمْزَة)
4.
Jamak Taksir (Jamak tak beraturan) (قُضَاة)
Kaidah Ta’ Maftuhah biasanya ditulis pada beberapa kategori:
1.
Ta Dhamir Mutakallim جِئْتُ جِئْتَ جِئْتِ))
2.
Ta’ Ta’nits/ Ta yang menunjukkan perempuan (قالت)
3.
Ta’ Jamak Muannats Salim (القانتلت الصالحات)
4.
Ta’ asli yang merupakan unsur utama pada sebuah kata
(ثبت – لات – مات – بات)
DAFTAR PUSTAKA
Arab, Dalam Bahasa. 2009. “Muhajir : Pemakaian.”
Khallaf, Abdull Wahab. “Abdull
Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Al-Fiqh, (Cet. I Mesir:Maktabah Al-Da’wa
Al-Islamiyah, 1968), h.21 Ibid. h 34.”
Qawaid Al-Imla ’ Wa
Al-Khat 1.
Komentar
Posting Komentar